Rabu, 31 Oktober 2012

Pencemaran dan Pengelolaan Sampah di Jakarta


Pencemaran dan pengelolaan sampah di Jakarta
Masalah pencemaran udara dikota-kota besar, sangat berbeda dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: tofografi, kependudukan, iklim dan cuaca serta tingkat atau angka perkembangan sosio ekonomi dan industrialisasi. Masalah-masalah ini akan meningkat keadaannya, jika jumlah penduduk perkotaan semakin meningkat yang mengakibatkan jumlah penduduk yang terpapar polusi udara juga meningkat. Perkiraan–perkiraan PBB menunjukkan sampai tahun 2000,47 persen dari jumlah keseluruhan populasi akan tinggal di daerah perkotaan. Pada tahun1990, 60 kota–kota didunia mempunyai jumlah penduduk ± 3 juta orang dan pada tahun 2000 diproyeksikan 85 kota-kota akan termasuk jenis katagori ini.
DKI Jakarta adalah salah satu kota dengan tingkat polusi paling tinggi di Indonesia dan rangking ketiga untuk kota besar terburuk di dunia. Hal ini dibuktikan dengan adanya kerusakan di berbagai aspek lingkungan. Seperti udara, diakibatkan oleh melonjaknya volume kendaraan bermotor yang merupakan penyumbang terbanyak pencemaran udara di Jakarta.Karena asap dari kendaraan bermotor tersebut mengandung unsur senyawa kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia, maupun kondisi lingkungan. Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) memastikan tingkat pencemaran udara Jakarta melonjak drastis di tahun 2011 dibandingkan 2010. Selain itu disebabkan oleh lemahnya kontrol pemerintah dalam melakukan uji emisi kendaraan.
Berdasarkan kajian Japan International Cooperation Agency (JICA), penyumbang zat pencemar udara terbesar di Jakarta adalah emisi kendaraan pribadi. Emisi itu mengandung Karbon Monoksida (co) sebanyak 58 persen, Nitrogen Oksida (nox) 54 persen, Hidrokarbon 88,8 persen, timbal (pb) 90 persen, dan Sulfur Oksida (sox) 35 persen. Polusi di Jakarta, salah satunya disebabkan kemacetan. Sebab, jumlah kendaraan di Jakarta tak sebanding dengan jalan yang tersedia. Pertumbuhan kendaraan mencapai delapan hingga 12 persen pertahun, sedangkan pelebaran jalan hanya tiga hingga lima persen. Kondisi seperti itu, membuat kemacetan menjadi konsekwensi. Saat kemacetan terjadi, polusi otomatis meningkat. Pasalnya, emisi gas buang kendaraan yang merayap berbeda 12 kali lipat dibanding saat kendaraan berjalan normal. Polusi tersebut memberikan dampak negatif bagi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.
Polusi bising adalah polusi yang hampir setiap hari terjadi di Jakarta. Polusi ini diakibatkan oleh kepadatan lalu lintas, hiruk pikuk masyarakat kota, dan konser-konser musik yang sering diadakan di tempat-tempat hiburan di pusat perkotaan. 
 
Zat-zat pencemar udara yang paling sering dijumpai di lingkungan perkotaan adalah: SO2, NO dan NO2, CO, O3, SPM(Suspended Particulate Matter) dan Pb. SO2 berperan dalam terjadinya hujan asam dan polusi partikel sulfat aerosol. NO2 berperan terhadap polusi partikel dan deposit asam dan prekusor ozon yang merupakan unsur pokok dari kabut fotokimia. Asap dan debu termasuk polusi partikel. Ozon, CO, SPM, dan Pb seluruhnya telah dibuktikan memberi pengaruh yang merugikan kesehatan manusia. Pembakaran bahan bakar fosil di sumber-sumber yang menetap, mengarah terbentuknya produksi SO2, NO dan NO2 serta Pb, sedangkan masing–masing minyak solar jelas terbukti menghasilkan sejumlah partikel dan SO2 sebagai tambahan dari NO dan NO2.
Pencemaran udara primer adalah substansi pencemaran yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara, sulfur oksida (SO), dan nitrogen monoksida (NO) dari hasil sisa pembakaran fosil. Menurut laporan Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) 2006, potensi pencemaran udara berupa SO tertinggi berasal dari sumber tidak bergerak, yaitu industri sebesar 403.523,25 ton per tahun (78,32 persen) dan NO tertinggi dari sumber bergerak, yaitu 27.079,72 ton per tahun (62,2 persen). Dari data tersebut, terlihat bahwa sumber tidak bergerak, yaitu industri, merupakan penyebab pencemaran untuk parameter SO dan parameter NO pada sumber bergerak, yaitu transportasi. 
 
Sekitar 70 persen tanah di DKI Jakarta tercemari air limbah, sehingga Kali Ciliwung sudah tidak layak konsumsi. Kali tersebut sudah tercemar bakteri Escherichia coli (E-Coli) jauh di atas ambang normal yakni 80 persen.Pencemaran tanah ini terjadi karena pengelolaan septic tank belum dilakukan dengan baik. Sejauh ini baru tiga persen septic tank yang sudah terkelola sesuai fungsinya. Sekitar 97 persen lainnya akibat tinja yang mencemari air tanah, dan itu membuat kualitas air tanah di DKI Jakarta tercemar.
Jakarta harus berhati-hati dengan penggunaan merkuri pada alat kosmetik yang beredar di Jakarta. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan terhadap penjualan sabun dan krim pencerah kulit serta kosmetik seperti riasan mata, produk pembersih, dan mascara karena adanya kemungkinan mengandung merkuri. Pengawas kesehatan global itu menunjukkan bahwa merkuri dalam sabun dan krim pada akhirnya terbuang ke air limbah. Merkuri, kemudian, memasuki lingkungan, di mana ia menjadi alkohol, dan masuk rantai makanan sebagai metilmerkuri yang sangat beracun pada ikan. Ibu hamil yang mengonsumsi ikan yang mengandung metilmerkuri mentransfer merkuri ke janin mereka yang nantinya dapat mengakibatkan defisit neurologis pada anak. Konsentrasi merkuri Jumlah atau dalam sebuah produk dapat diinformasikan melalui label pada kemasan atau dalam daftar bahan. Nama bahan yang mesti diwaspadai terkait dengan merkuri yakni Hg, klorida mercurous, merkuri amoniasi, klorida amida dari merkuri, air raksa, cinnabaris, hydrargyri oxydum rubrum (merkuri oksida), dan merkuri iodida.
 
TIMAH atau timbal yang terdapat di dalam pipa air, debu, tembikar dan mainan bisa menghambat perkembangan emosional dan intelektual anak. .  Baik anak-anak maupun orang dewasa akan terpapar oleh timah. Tetapi, anak lebih berisiko karena sedang dalam masa pertumbuhan dan jaringan mereka masih rentan  mengalami kerusakan. Orang dewasa menyerap sebanyak 10-15% timah, terang peneliti, maka anak-anak atau bayi bisa menyerap hingga 50%. Begitu diserap, sebagian besar dari timah ini akan disimpan di dalam tulang. Timah bisa berdiam di sini selama 30 tahun dan menyebabkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki pada siitem saraf pusat. Batas ambang normal yang masih diberlakukan adalah 10 microgram per desiliter. Menurut para peneliti dari University of Bristol, bahkan dalam batas ambang normal ini saja timah yang terkandung dalam darah masih memiliki efek buruk.
Jakarta mempunyai tingkat tofografi yang relatif dan iklimnya dipengaruhi oleh molekul air sehingga sangant lembab serta memiliki suhu udara relatif tinggi. Suhu udara tinggi membentuk suatu lapisan inversi beberapa puluh atau ratus meter di atas tanah. Lapisan ini akan merangkap polutan-polutan yang dekat denagn sumber-sumber emisi akibatnya cenderung mudah terbentuknya fotokimia oksidan dari emisi-emisi polutan.
Di DKI Jakarta, volume air bersih sudah semakin menurun, hal ini disebabkan oleh sampah-sampah yang dibuang ke sungai. Kebanyakan dari sampah yang dibuang tersebut adalah sampah jenis plastik dan styrofoam yang sulit untuk dicerna oleh alam. Polusi udara yang melanda ibu kota juga menimbulkan banyak masalah sosial bagi warganya.Contohnya masalah kesehatan, polusi udara yang buruk dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan, asma, mencemari darah, bahkan kanker paru-paru. 
 
Kadar timah dalam darah sangat berkaitan dengan tingkat kemampuan membaca, menulis dan mengeja anak, serta sikap antisosial mereka. Setiap peningkatan kadar timah setara dengan penurunan kemampuan membaca, menulis dan mengeja sebanyak 0.3 poin. Kadar timah dalam darah antara 5 dan 10 microgram per desiliter menyebabkan penurunan skor kemampuan membaca sebanyak 49% dan kemampuan menulis sebesar 51%. Kadar timah sebanyak 10 microgram per desiliter menyebabkan peningkatan sikap antisosial dan hiperaktif hingga 3 kali lipat.
Partisipasi dan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam memperbaiki lingkungan juga perlu digalakkan. Seperti mengadakan bike to work, bike to school, dan CFD (Car Free Day) sebagai bentuk partisipasi untuk mengurangi tingkat polusi di Jakarta. Akan lebih baik jika kegiatan ini didukung oleh pemerintah juga lebih di tingkatkan dengan kegiatan tanam seribu pohon, memperluas area lingkungan hijau di DKI Jakarta, melakukan konvensi ke bahan bakar, mempromosikan teknologi rendah emisi, mengadopsi perencanaan tata ruang yang lebih baik, dan pemantauan kualitas udara. Selain itu polisi yang bertugas di lapangan untuk bertindak tegas kepada kendaraan yang tidak memenuhi ambang batas emisi gas. Pemerintah harus tegas terhadap perusahaan-perusahaan makanan dan kosmetik dalam pemakaian timah dan merkuri.
Data terakhir Dinas Kebersihan Jakarta, menunjukkan jumlah sampah Jakarta sampai saat ini ± 27.966 M³ per hari. Sekitar 25.925 M³ sampah diangkut oleh 757 truk sampah untuk dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Sisa sampah ± 2041 M³ yang tak terangkut menjadi masalah yang masih menunggu untuk segera diatasi. Sampai kini, Jakarta masih sangat bergantung terhadap satu-satunya TPA di Bantar Gebang. Sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, sampah bergerak linier dengan perkembangan kehidupan manusia itu sendiri. Semakin kompleks alur kehidupan manusia, terutama di kota-kota besar, jumlah sampah juga akan terus bertambah.
 
Sampah mengakibatkan pencemaran lingkungan. Sampah (organik dan padat) yang membusuk umumnya mengeluarkan gas seperti methan (CH4) dan karbon dioksida (CO2) serta senyawa lainnya. Secara global, gas-gas ini merupakan salah satu penyebab menurunnya kualitas lingkungan (udara) karena mempunyai efek rumah kaca (green house effect) yang menyebabkan peningkatan suhu, dan menyebabkan hujan asam. Sedangkan secara lokal, senyawa-senyawa ini, selain berbau tidak sedap / bau busuk, juga dapat mengganggu kesehatan manusia. Menghasilkan pencemaran air yang tidak hanya akibat proses pencucian sampah padat, tetapi pencemar terbesar justru berasal dari limbah cair yang masih mengandung zat-zat kimia dari berbagai jenis pabrik dan jenis industri lainnya. Air yang tercemar tidak hanya air permukaan saja, tetapi juga air tanah; sehingga sangat mengganggu dan berbahaya bagi manusia. Fisik sampah (sampah padat), baik yang masih segar maupun yang sudah membusuk; yang terbawa masuk ke got / selokan dan sungai akan menghambat aliran air dan memperdangkal sungai. Pendangkalan mengakibatkan kapasitas sungai akan berkurang, sehingga air menjadi tergenang dan meluap menyebabkan banjir. Sampah merupakan sumber penyakit, baik secara langsung maupun tak langsung. Secara langsung sampah merupakan tempat berkembangnya berbagai parasit, bakteri dan patogen; sedangkan secara tak langsung sampah merupakan sarang berbagai vector (pembawa penyakit) seperti tikus, kecoa, lalat dan nyamuk.

Apa upaya yang dapat di lakukan untuk mengurangi gunung sampah ini? Jangan membuang sampah sembarangan. Terutama di jalan dan selokan. Kurangi konsumsi. Konsumsi apapun pasti menghasilkan sampah. Apakah itu membeli baju, CD, makanan, odol, minyak goreng, dll. Semua menghasilkan sampah dan kebanyakan plastik yang tidak dapat didaur ulang. Pakai daftar belanja, jangan asal beli karena emosi. Gunakan sebagai bahan pembuatan pupuk kompos. Daur ulang, pakai ulang, perbaiki ulang lalu sumbangkan kepaad yang membutuhkan. Pengolahan sampah melalui intermediate treatment facility (ITF). Selain fokus pada pengolahan sampah di dalam kota, ITF juga bertujuan mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu  (TPST) Bantargebang. Pola pengolahan sampah di ITF berbasis teknologi tinggi, modern, tepat guna, dan ramah lingkungan. Tujuan akhirnya mengubah sampah menjadi sesuatu yang berguna (from waste to energy). Lewat teknologi tersebut, sampah anorganik di daur ulang, sampah organik difermentasi untuk menghasilkan bahan bakar pembangkit listrik atau sumber BBG. Tahun ini, dengan total lahan seluas 7,5 hektar, ITF Cakung Cilincing mampu mengolah sampah hingga 1.300 ton per hari atau dibuat barang-barang kerajinan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar