Rabu, 31 Oktober 2012

Tanah Longsor di Jakarta


Tanah longsor di Jakarta

           Daerah Khusus Ibukota Jakarta mempunyai luas wilayah ± 650 km2 atau ± 65.000 termasuk wilayah daratan Kepulauan Seribu yang tersebar di teluk Jakarta. Secara geografis wilayah DKI Jakarta terletak antara 106 22’ 42" BT sampai 106 58’ 18" BT dan -5 19’ 12" LS sampai -6 23’ 54" LS. 
 
Jakarta merupakan kota yang dibangun di pesisir, khususnya area di utara Jakarta. Sehingga sebagian tanahnya dari pasir, bukan dari jenis lempung. Tanah jenis ini jika ditambah syarat lain, yaitu bersifat lepas (tidak padat) dan jenuh air, maka akan berpotensi terkena likuifaksi atau suatu fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa. Pada peristiwa ini, lapisan tanah pasir berubah menjadi cairan sehingga tidak mampu menopang beban bangunan di atasnya dan mengakibatkan flow failure atau longsoran lereng tanah yang menimbulkan kerusakan besar pada jalan yang berada di atas tebing, menyebabkan lateral spread atau perpindahan menyamping pada permukaan datar dan menimbulkan kerusakan pada bangunan dan jalan. Akibatnya tanah Jakarta cukup berpotensi untuk ambles, longsor dan kehilangan daya dukung terhadap fondasi bangunan dan infrastruktur di atasnya jika terjadi gempa dengan skala di atas 5 MW (Magnitudo gempa) dan dengan kecepatan gempa permukaan di atas 0,1 gal (80 cm per detik kuadrat). Tanah jenis pasir maupun kombinasi antar tanah berpasir dengan tanah lumpur dan tanah liat memiliki kekuatan pikul tanah 0,50 s/d 5,00 Kg/cm2. . (sumber: Zakaria Zainal Abidin. 1992. ”Analisis Bangunan Menghitung Anggaran Biaya Bangunan”. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta).
 
Penurunan permukaan tanah secara signifikan di Jakarta semakin luas. Kondisi tersebut terjadi akibat kian intensifnya pembangunan fisik yang disertai penyedotan air tanah secara tidak terkendali. Naiknya permukaan laut sebagai dampak pemanasan global menyebabkan wilayah Jakarta yang terendam rob atau genangan saat air laut pasang kian luas. Penurunan permukaan tanah bervariasi, 2 sentimeter hingga lebih dari 12 cm selama 10 tahun sejak 1997 hingga 2007. Sebagian besar kawasan barat hingga utara Jakarta mengalami penurunan tanah antara 5 cm dan 12 cm. Adapun wilayah tengah hingga timur penurunan tanahnya hingga 5 cm. Penurunan kawasan timur laut hingga selatan berkisar 2-4 cm. Pada periode tahun 1982 hingga 1997 terjadi amblesan tanah di kawasan pusat Jakarta yang mencapai 60 cm hingga 80 cm. Karena merata, amblesan ini menjadi tidak terasa. Bila penurunan ini terus berlanjut, "tenggelamnya" Jakarta sudah di depan mata.

Hampir seluruh wilayah Jakarta rawan terhadap turun muka tanah yang dapat memicu terjadinya pelemahan pada sistem struktur tanah dan akan berdampak pada daya dukung tanah itu sendiri terhadap bangunan yang ada diatasnya. Amblesan merupakan bentuk hilangnya daya dukung tanah terhadap bangunan yang ada diatasnya. Pantai utara Jakarta, baik Jakarta Utara, Jakarta Timur bagian utara, Jakarta Barat bagian Utara dan Jakarta Pusat bagian utara merupakan kawasan yang selama ini sudah menunjukan kondisi kritis terkait dengan turunnya muka tanah. Beberapa kawasan yang laju penurunan muka tananya sudah sangat mengkuatirkan di antaranya adalah Muara Baru, Kelapa Gading, Marunda, Kemayoran, Pasar Ikan, Pluit, Ancol, Gunung Sahari, Mangga Dua, Pantai Mutiara, Meruya, Sudirman-Thamrin, Klender, dan masih banyak kawasan lain yang masih menunjukkan tren penurunan muka tanah yang tinggi.

Permukaan tanah di DKI Jakarta kian turun setiap tahunnya, diakibatkan tingginya laju ekstraksi air tanah dalam yang sudah melewati batas. kondisi penurunan tanah akibat penggunaan air tanah yang kelewat batas ini tidak hanya terjadi di Jakarta. Tapi di sejumlah kota di beberapa negara juga terjadi seperti Mexico City hampir 80 tahun lalu dan di Bangkok City 30 tahun lalu. Kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama, dan Osaka punya pengalaman yang sama. Penurunan permukaan tanah disebabkan oleh 4 hal, yaitu, sifat atau karakteristik geologi tanah di wilayah ibukota yang merupakan lapisan akumulasi endapan (quarter) sedimen yang belum stabil (terus mengalami proses konsolidasi) pada kawasan pantai yang berlansung ribuan tahun lalu yang akhirnya membentuk wilayah delta (makanya Jakarta juga digolongkan sebagai kota delta/delta city) menyebabkan penurunan permukaan tanah, karena adanya beban statis (bangunan) dan dinamis (beban bergerak seperti kendaraan bermotor) yang mempercepat terjadinya proses pemadatan lapisan tanah, karena adanya gaya teknonis yang menyebabkan getaran dan pergerakan lapisan kulit bumi/tanah yang juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah dan akibat sangat tingginya laju ekstraksi air tanah (khususnya air tanah dalam) yang sudah melewati daya dukungnya (melebihi kemampuan pengisian kembali).

Penurunan permukaan tanah juga menciptakan kawasan-kawasan cekung yang lebih cepat tergenang saat banjir. Pengendalian banjir di Ibu Kota tidak akan pernah berhasil, karena begitu titik genangan yang ada dihilangkan, dalam saat bersamaan titik genangan baru akan bermunculan. Drainase yang didesain 30-40 tahun lalu sudah tidak memiliki kemiringan (slope) yang normal lagi, karena pada banyak tempat sudah menekuk (seperti patah) akibat terjadinya penurunan muka tanah sehingga tidak lagi bisa mengalirkan air secara normal ke saluran pengumpul (jaringan makro drainase yang juga sudah menjadi tempat pembuangan sampah dan akumulasi sedimen). Penurunan permukaan tanah di sejumlah wilayah juga menurunkan badan jalan dan saluran drainase sehingga retak-retak, rusak, dan menutupi saluran.

Untuk mengurangi laju penurunan permukaan tanah Jakarta, penggunaan air bawah tanah harus dikurangi dan jika bisa dihentikan secara total. Desalinasi bisa menjadi salah satu alternatif solusi guna memenuhi kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat.

              Melakukan pembangunan tanggul laut di sepanjang bibir pantai guna menahan air laut saat pasang. Tanggul pun harus rutin ditinggikan karena permukaan tanah terus turun. Selain itu juga melakukan pembuatan sumur injeksi, sumur resapan, lubang resapan biopori dan mempertahankan situ sebagai tampungan air permukaan.

 



 








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar